FIRST

Thank's a lot for visiting my blog... Don't forget to give your comments below after you read MY EXPRESSION.. -Aliefya Fridayana-

CERPEN : MY ANGEL

Namaku Tamara Aprilia, biasa dipanggil Tamara. Aku selalu bermimpi untuk punya rumah besar dan kecantikan yang lebih. Agak mustahil memang, tapi aku sangat menginginkan hal itu karena keadaan keluargaku yang pas-pasan, aku hanya ingin keluargaku hidup lebih baik daripada sekarang, untung saja aku pintar dan mendapat beasiswa di SMP jadi aku bisa meringankan beban orang tuaku untuk urusan biaya sekolah. Dan satu lagi, aku ingin kulitku yang sawo matang ini berubah putih seperti kulit-kulit model jaman sekarang, karena akupun ingin menjadi model yang bisa go international. Mama dan Papaku berkulit putih, tapi kenapa di keluargaku hanya akulah yang berkulit sawo matang, just me. Saat aku bertanya pada Mama, Mama hanya menyuruh aku untuk bersyukur atas keadaanku yang sekarang. Yah, di satu sisi aku memang beruntung mempunyai mama yang sangat memperhatikan dan selalu lembut padaku.


“Tamara, ayo cepat bangun sayang. Kamu gak sekolah?” kata Mama sambil membuka tirai kamarku. “Eh,ah? Ya sekolah, Ma. Emangnya sekarang jam berapa? Kan masih pagi buta?” kataku sambil mengucek-ucek mata dan menguap. “Pagi buta apanya? Sekarang udah jam 6. Kamu masuk siang?” kata Mama keheranan. “Apa? Jam 6? Aduh, telat deh. Ma kok gak bangunin aku dari tadi sih? Kan sekarang ada guru killer di pelajaran pertama,” belum sempat Mama menjawab, aku sudah menyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi. Pagi itu, adalah pagi yang sangat ramai oleh kakiku yang selalu berlari kesana-kemari. Berkali-kali Mama berteriak padaku untuk tidak berlari, tapi rasa panikku mengabaikan segalanya. Dan aku tak sempat sarapan, aku hanya berpikir bagaimana caranya untuk tidak terlambat datang ke sekolah. 
 
Di jalan, angkot yang menuju sekolahku tak kunjung datang. Maka aku memutuskan untuk berlari ke sekolah. Memang sih, sekolahku itu tidak terlalu jauh, tapi harus menyebrang dan melewati pasar. Jadi, itu semua akan memperlambat aku untuk ke sekolah. Aku melihat jam tangan, dan ternyata sudah pukul enam lebih dua puluh. Itu artinya sepuluh menit lagi gerbang sekolah ditutup dan aku akan kena hukuman gara-gara terlambat. Haduh, hari ini benar-benar sial sekali aku. Pagi harinya saja sudah sangat sial, apalagi nanti siang saat di sekolah.

Tebakan ku sangat benar, gerbang sudah mau ditutup saat aku hanya berjarak 1 meter dari gerbang itu. Aku segera menghalangi gerbang itu dengan kakiku, dan Pak Satpam pun melotot ke arahku. “Maaf pak, tolong jangan ditutup. Saya tadi membantu nenek-nenek yang menyebrang jalan. Jadi waktu saya tersita karena menolong nenek itu,” kataku sambil memasang wajah memelas. Seketika wajah Pak Satpam itu menampakkan senyum. “Baiklah, kamu boleh masuk. Tapi, sekali lagi kamu terlambat seperti ini, kamu tidak boleh masuk dan harus hormat di depan tiang bendera sampai istirahat tanpa menaruh tas,” kata Pak Satpam yang mulai membuka gerbang itu untukku. “Siap, Pak!” kataku. Aku pun segera masuk kelas sambil mengumbar senyuman.
¤ ¤ ¤
Di kelas, belum ada guru. Maka, aku pun masuk kelas dengan santai. Saat aku baru duduk, Shana yang duduk di sebelahku langsung berbicara. “Ra, kamu udah ngerjain pr IPA belum? Pelajaran pertama kan IPA,” untung saja tadi malam aku sudah mengerjakan pr itu kalo enggak, gak tau deh apa yang bakal terjadi. Aku lalu mengambil buku itu dari tas, dan langsung memberikannya pada Shana. Sejenak, langsung banyak anak menggerumbul di mejaku. Gila nih anak-anak. Orang kaya tapi kok pada nyontek semua ya? Ah, tapi biarlah mungkin saja mereka kemari habis lembur untuk menghabiskan uang jajannya.
¤ ¤ ¤
Saat istirahat pun tiba, waktu yang paling ditunggu oleh siswa-siswi SMP Pusaka ini. Untung tadi mama sempat memasukkan bekal ke dalam tas ku, karena perutku sudah mulai keroncongan gara-gara gak sarapan dan aku pun gak bawa uang jajan karena tergesa-gesa tadi pagi. Aku pun makan di kantin sambil menemani Shana, Reyna, dan Poppy makan bakso. Ketiga orang itu memang sahabat terbaikku. Tak pernah meninggalkanku walaupun keadaanku yang tidak sekaya mereka. “Eh, inget gak lusa hari apa?” Kata Poppy yang bicara saat masih ada bakso di mulutnya. “Telen dulu tuh. Emangnya hari apa sih?” kata Reyna. “Lola banget sih. Ultahnya Poppy tau,”aku langsung menyambung saat Reyna otaknya gak jalan seperti biasa. “Oh, iya ya. Aku baru inget, Pop. Sorry, hehehehe,” kata Reyna sambil memasang muka gak bersalah. “Yah, kalau kamu sih gak pernah inget, Na,” kata Shana yang langsung melihat aku yang tampak bengong di meja kantin. “Ra,kamu kenapa bengong gitu? Ada masalah? Kalau ada, kenapa gak cerita? Cerita aja deh gak papa. Kan kamu sahabat kita juga,” kata Shana, Poppy dan Reyna pun mengangguk sebagai tanda setuju. “Aku lagi bingung nih mau pake baju apa pas ke party nya Poppy,” kataku sambil masih berpikir mau pakai baju apa, padahal aku gak punya baju glamor seperti sahabatku lainnya. “Gak usah bingung, aku punya gaun yang pas kok sama kamu. Kan ukuran baju kita sama tuh,” kata Shana. “Aduh, makasih banget ya, Shan. Aku gak tau bakal gimana aku nanti tanpa kamu,” aku pun segera memeluk Shana.

Aku pulang dengan perasaan sangat senang. Tanpa memperhatikan jalan. Bukk! Aku menabrak seseorang. Ups! Siapa ya, orang itu. Ternyata seorang wanita cantik. “Kamu bener yang namanya Tamara kan?” orang itu berbeicara padaku. “Eh, iya bener. Maaf ya. Tadi aku gak sengaja nabrak Kakak,” kataku sambil memandang kagum orang itu dari ujung kaki sampai ubun-ubunnya. “Jangan bicara di sini, nanti kamu disangka ngomong sendiri, karena gak ada yang bisa lihat aku selain kamu,” DEG! Berarti hantu dong. “Tenang, aku bukan hantu. Aku peri yang bisa mengabulkan 5 permintaanmu. Hanya 5,” kata perempuan itu sambil menarik tanganku untuk pergi ke rumah dan menyuruhku untuk bersikap wajar seolah gak ada apa-apa saat di rumah nanti supaya tak ada yang curiga.

Sampai di kamar, aku pun mengucapkan permintaanku yang pertama, “Aku ingin cantik dan berkulit putih kataku penuh harap. Seketika aku pun berkulit putih dan berambut panjang hitam. Wow! Bener-bener ajaib. “Sisa 4 permintaan lagi. Kamu harus pergunakan hal itu saat kamu perlu. Kalau tidak, kamu akan menyesal seumur hidupmu,” kata peri itu. Aku pun berpikir, apa kiranya yang aku dapat jika aku menggunakan permintaan itu tanpa memperdulikan hal yang lebih aku butuhkan.

Aku pun meminta, kaki nenek yang lumpuh bisa disembuhkan. Dalam sekejap pun, nenek bisa berjalan seperti sedia kala. Untuk yang ketiga, aku ingin rumah ini berubah jadi besar seperti rumah orang kaya. Dan dilengkapi dengan rumah makan untuk Mama dan Papa bisa berwiraswasta. “Sisa 2, kamu sepertinya tidak memikirkan permintaan yang lebih penting. Kamu tidak boleh ceroboh. Karena jika kamu ceroboh, maka bencana akan datang dari orang disekitarmu,” kata Peri itu.
¤ ¤ ¤
Di sekolah, setelah aku masuk kelas, “TAMARA!! Ke sini cepetan. Aku bawa gaun yang aku maksud itu lho, kamu liat aja dulu, kalo gak suka boleh kok tuker sama gaun aku yang lain,” kata Shana. Aku kaget banget. Jadi Shana bener-bener bawain aku gaunnya, gaunnya bagus banget. Gaun itu, warna silver dengan hiasan pernak-pernik perak yang ditabur rata. Panjangnya di atas lutut dan tidak berlengan. Yang lebih bagusnya, gaun itu pun dilengkapi Shana dengan gelang, kalung, cincin, hiasan rambut, dan tas tangan yang serasi dengan gaun itu. Oh My God, padahal aku bisa aja minta tolong peri itu untuk merias aku jadi kayak Cinderella di negeri dongeng. “Tamara, kamu kok jadi lebih putih sih? Umm, bukan lebih putih, tapi putih banget. Kamu jadi kayak kembarannya model-model di Jakarta tau gak,” kata Reyna dengan gaya lolanya yang kayak orang tanpa dosa. “Emang segitu putihnya ya? Aku ngerasa kayak gak ada perubahan tuh. Malahan biasa-biasa aja tadi dari rumah. Tapi, tadi Abang Siomay langganan aku juga keliatan gak percaya gitu kalo ini aku. Malahan tadi dia ngira kalo aku anak baru di sekolah ini,” kataku sambil memandang ke arah kaca jendela. Berarti, peri itu bener-bener ngerubah aku.

Sejenak, langsung banyak cowok-cowok yang merayuku. Minta tanda tangan, foto bareng, sampai ada yang ngajak aku nge-date. Dan akhirnya dari segerumbul cowok-cowok itu, ada cowok ganteng plus keren ngajak aku jalan nanti malam. Aku pun meng-iyakan ajakannya dengan senang hati.

Di rumah aku langsung mengucapkan permintaanku yang ke-empat, yaitu meriasku dan memakaikanku pakaian yang bagus tapi simpel. Aku menunggu lama sekali di rumah, karena gak sabar, aku yang tahu di mana rumah cowok itu langsung ke sana. Di sana suasananya ramai banget. Malahan banyak terdengar suara perempuan yang berbeda-beda. Aku langsung curiga dengan cowok itu. Ternyata benar, dia seorang playboy. Dia sempat mau menjelaskan semuanya padaku, tapi aku langsung pergi pulang. Semua riasanku ini percuma. Semua sia-sia. Tapi aku pun bodoh, karena gak mendengarkan kata Peri itu.

“Shana, Reyna, Poppy. Aku mau ngomong ke kalian. Aku menyesal karena telah mengabaikan pesta sahabatku sendiri demi cowok playboy yang hanya aku lihat dari wajahnya aja. Aku sangat menyesal dan aku gak tau apa kalian mau maafin aku ato enggak. Kalo enggak juga gak papa, aku tau aku sangat egois,” kataku pada mereka di email. Yah, kemarin malam itu memang pesta ulang tahun Poppy. Tapi, aku tidak jadi datang hanya karena cowok itu. Hmm, mereka memang sahabatku yang paling baik. Karena mau memaafkanku walaupun kesalahan yang udah besar banget. Sebagai permintaanku yang terakhir, “Peri, aku mau keadaan kembali di mana saat aku datang ke sekolah dengan kulit putih ini. Hanya itu, karena aku ingin menikmati pesta ulang tahun Poppy,” peri pun mengabulkannya. Dia tersenyum padaku, dan bayangannya perlahan menghilang. Aku tiba-tiba saja sudah ada di kelas. Terimakasih Peri. Kau telah merubah hidupku jadi lebih baik.

Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My Expression - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger