Namaku
Tamara Aprilia, biasa dipanggil Tamara. Aku selalu bermimpi untuk
punya rumah besar dan kecantikan yang lebih. Agak mustahil memang,
tapi aku sangat menginginkan hal itu karena keadaan keluargaku yang
pas-pasan, aku hanya ingin keluargaku hidup lebih baik daripada
sekarang, untung saja aku pintar dan mendapat beasiswa di SMP jadi
aku bisa meringankan beban orang tuaku untuk urusan biaya sekolah.
Dan satu lagi, aku ingin kulitku yang sawo matang ini berubah putih
seperti kulit-kulit model jaman sekarang, karena akupun ingin menjadi
model yang bisa go international. Mama dan Papaku berkulit
putih, tapi kenapa di keluargaku hanya akulah yang berkulit sawo
matang, just me. Saat aku bertanya pada Mama, Mama hanya
menyuruh aku untuk bersyukur atas keadaanku yang sekarang. Yah, di
satu sisi aku memang beruntung mempunyai mama yang sangat
memperhatikan dan selalu lembut padaku.
“Tamara,
ayo cepat bangun sayang. Kamu gak sekolah?” kata Mama sambil
membuka tirai kamarku. “Eh,ah? Ya sekolah, Ma. Emangnya sekarang
jam berapa? Kan masih pagi buta?” kataku sambil mengucek-ucek mata
dan menguap. “Pagi buta apanya? Sekarang udah jam 6. Kamu masuk
siang?” kata Mama keheranan. “Apa? Jam 6? Aduh, telat deh. Ma kok
gak bangunin aku dari tadi sih? Kan sekarang ada guru killer
di pelajaran pertama,” belum sempat Mama menjawab, aku sudah
menyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi. Pagi itu, adalah
pagi yang sangat ramai oleh kakiku yang selalu berlari kesana-kemari.
Berkali-kali Mama berteriak padaku untuk tidak berlari, tapi rasa
panikku mengabaikan segalanya. Dan aku tak sempat sarapan, aku hanya
berpikir bagaimana caranya untuk tidak terlambat datang ke sekolah.
Di
jalan, angkot yang menuju sekolahku tak kunjung datang. Maka aku
memutuskan untuk berlari ke sekolah. Memang sih, sekolahku itu tidak
terlalu jauh, tapi harus menyebrang dan melewati pasar. Jadi, itu
semua akan memperlambat aku untuk ke sekolah. Aku melihat jam tangan,
dan ternyata sudah pukul enam lebih dua puluh. Itu artinya sepuluh
menit lagi gerbang sekolah ditutup dan aku akan kena hukuman
gara-gara terlambat. Haduh, hari ini benar-benar sial sekali aku.
Pagi harinya saja sudah sangat sial, apalagi nanti siang saat di
sekolah.
Tebakan
ku sangat benar, gerbang sudah mau ditutup saat aku hanya berjarak 1
meter dari gerbang itu. Aku segera menghalangi gerbang itu dengan
kakiku, dan Pak Satpam pun melotot ke arahku. “Maaf pak, tolong
jangan ditutup. Saya tadi membantu nenek-nenek yang menyebrang jalan.
Jadi waktu saya tersita karena menolong nenek itu,” kataku sambil
memasang wajah memelas. Seketika wajah Pak Satpam itu menampakkan
senyum. “Baiklah, kamu boleh masuk. Tapi, sekali lagi kamu
terlambat seperti ini, kamu tidak boleh masuk dan harus hormat di
depan tiang bendera sampai istirahat tanpa menaruh tas,” kata Pak
Satpam yang mulai membuka gerbang itu untukku. “Siap, Pak!”
kataku. Aku pun segera masuk kelas sambil mengumbar senyuman.
¤
¤ ¤
Di
kelas, belum ada guru. Maka, aku pun masuk kelas dengan santai. Saat
aku baru duduk, Shana yang duduk di sebelahku langsung berbicara.
“Ra, kamu udah ngerjain pr IPA belum? Pelajaran pertama kan IPA,”
untung saja tadi malam aku sudah mengerjakan pr itu kalo enggak, gak
tau deh apa yang bakal terjadi. Aku lalu mengambil buku itu dari tas,
dan langsung memberikannya pada Shana. Sejenak, langsung banyak anak
menggerumbul di mejaku. Gila nih anak-anak. Orang kaya tapi kok pada
nyontek semua ya? Ah, tapi biarlah mungkin saja mereka kemari habis
lembur untuk menghabiskan uang jajannya.
¤
¤ ¤
Saat
istirahat pun tiba, waktu yang paling ditunggu oleh siswa-siswi SMP
Pusaka ini. Untung tadi mama sempat memasukkan bekal ke dalam tas ku,
karena perutku sudah mulai keroncongan gara-gara gak sarapan dan aku
pun gak bawa uang jajan karena tergesa-gesa tadi pagi. Aku pun makan
di kantin sambil menemani Shana, Reyna, dan Poppy makan bakso. Ketiga
orang itu memang sahabat terbaikku. Tak pernah meninggalkanku
walaupun keadaanku yang tidak sekaya mereka. “Eh, inget gak lusa
hari apa?” Kata Poppy yang bicara saat masih ada bakso di mulutnya.
“Telen dulu tuh. Emangnya hari apa sih?” kata Reyna. “Lola
banget sih. Ultahnya Poppy tau,”aku langsung menyambung saat Reyna
otaknya gak jalan seperti biasa. “Oh, iya ya. Aku baru inget, Pop.
Sorry, hehehehe,” kata Reyna sambil memasang muka gak bersalah.
“Yah, kalau kamu sih gak pernah inget, Na,” kata Shana yang
langsung melihat aku yang tampak bengong di meja kantin. “Ra,kamu
kenapa bengong gitu? Ada masalah? Kalau ada, kenapa gak cerita?
Cerita aja deh gak papa. Kan kamu sahabat kita juga,” kata Shana,
Poppy dan Reyna pun mengangguk sebagai tanda setuju. “Aku lagi
bingung nih mau pake baju apa pas ke party nya Poppy,”
kataku sambil masih berpikir mau pakai baju apa, padahal aku gak
punya baju glamor seperti sahabatku lainnya. “Gak usah bingung, aku
punya gaun yang pas kok sama kamu. Kan ukuran baju kita sama tuh,”
kata Shana. “Aduh, makasih banget ya, Shan. Aku gak tau bakal
gimana aku nanti tanpa kamu,” aku pun segera memeluk Shana.
Aku
pulang dengan perasaan sangat senang. Tanpa memperhatikan jalan.
Bukk! Aku menabrak seseorang. Ups! Siapa ya, orang itu. Ternyata
seorang wanita cantik. “Kamu bener yang namanya Tamara kan?”
orang itu berbeicara padaku. “Eh, iya bener. Maaf ya. Tadi aku gak
sengaja nabrak Kakak,” kataku sambil memandang kagum orang itu dari
ujung kaki sampai ubun-ubunnya. “Jangan bicara di sini, nanti kamu
disangka ngomong sendiri, karena gak ada yang bisa lihat aku selain
kamu,” DEG! Berarti hantu dong. “Tenang, aku bukan hantu. Aku
peri yang bisa mengabulkan 5 permintaanmu. Hanya 5,” kata perempuan
itu sambil menarik tanganku untuk pergi ke rumah dan menyuruhku untuk
bersikap wajar seolah gak ada apa-apa saat di rumah nanti supaya tak
ada yang curiga.
Sampai
di kamar, aku pun mengucapkan permintaanku yang pertama, “Aku ingin
cantik dan berkulit putih kataku penuh harap. Seketika aku pun
berkulit putih dan berambut panjang hitam. Wow! Bener-bener
ajaib. “Sisa 4 permintaan lagi. Kamu harus pergunakan hal itu saat
kamu perlu. Kalau tidak, kamu akan menyesal seumur hidupmu,” kata
peri itu. Aku pun berpikir, apa kiranya yang aku dapat jika aku
menggunakan permintaan itu tanpa memperdulikan hal yang lebih aku
butuhkan.
Aku
pun meminta, kaki nenek yang lumpuh bisa disembuhkan. Dalam sekejap
pun, nenek bisa berjalan seperti sedia kala. Untuk yang ketiga, aku
ingin rumah ini berubah jadi besar seperti rumah orang kaya. Dan
dilengkapi dengan rumah makan untuk Mama dan Papa bisa berwiraswasta.
“Sisa 2, kamu sepertinya tidak memikirkan permintaan yang lebih
penting. Kamu tidak boleh ceroboh. Karena jika kamu ceroboh, maka
bencana akan datang dari orang disekitarmu,” kata Peri itu.
¤
¤ ¤
Di
sekolah, setelah aku masuk kelas, “TAMARA!! Ke sini cepetan. Aku
bawa gaun yang aku maksud itu lho, kamu liat aja dulu, kalo gak suka
boleh kok tuker sama gaun aku yang lain,” kata Shana. Aku kaget
banget. Jadi Shana bener-bener bawain aku gaunnya, gaunnya bagus
banget. Gaun itu, warna silver dengan hiasan pernak-pernik perak yang
ditabur rata. Panjangnya di atas lutut dan tidak berlengan. Yang
lebih bagusnya, gaun itu pun dilengkapi Shana dengan gelang, kalung,
cincin, hiasan rambut, dan tas tangan yang serasi dengan gaun itu. Oh
My God, padahal aku bisa aja minta tolong peri itu untuk merias aku
jadi kayak Cinderella di negeri dongeng. “Tamara, kamu kok jadi
lebih putih sih? Umm, bukan lebih putih, tapi putih banget. Kamu jadi
kayak kembarannya model-model di Jakarta tau gak,” kata Reyna
dengan gaya lolanya yang kayak orang tanpa dosa. “Emang segitu
putihnya ya? Aku ngerasa kayak gak ada perubahan tuh. Malahan
biasa-biasa aja tadi dari rumah. Tapi, tadi Abang Siomay langganan
aku juga keliatan gak percaya gitu kalo ini aku. Malahan tadi dia
ngira kalo aku anak baru di sekolah ini,” kataku sambil memandang
ke arah kaca jendela. Berarti, peri itu bener-bener ngerubah aku.
Sejenak,
langsung banyak cowok-cowok yang merayuku. Minta tanda tangan, foto
bareng, sampai ada yang ngajak aku nge-date. Dan akhirnya dari
segerumbul cowok-cowok itu, ada cowok ganteng plus keren ngajak aku
jalan nanti malam. Aku pun meng-iyakan ajakannya dengan senang hati.
Di
rumah aku langsung mengucapkan permintaanku yang ke-empat, yaitu
meriasku dan memakaikanku pakaian yang bagus tapi simpel. Aku
menunggu lama sekali di rumah, karena gak sabar, aku yang tahu di
mana rumah cowok itu langsung ke sana. Di sana suasananya ramai
banget. Malahan banyak terdengar suara perempuan yang berbeda-beda.
Aku langsung curiga dengan cowok itu. Ternyata benar, dia seorang
playboy. Dia sempat mau menjelaskan semuanya padaku, tapi aku
langsung pergi pulang. Semua riasanku ini percuma. Semua sia-sia.
Tapi aku pun bodoh, karena gak mendengarkan kata Peri itu.
“Shana, Reyna, Poppy. Aku mau ngomong ke kalian. Aku menyesal karena
telah mengabaikan pesta sahabatku sendiri demi cowok playboy yang
hanya aku lihat dari wajahnya aja. Aku sangat menyesal dan aku gak
tau apa kalian mau maafin aku ato enggak. Kalo enggak juga gak papa,
aku tau aku sangat egois,” kataku pada mereka di email. Yah,
kemarin malam itu memang pesta ulang tahun Poppy. Tapi, aku tidak
jadi datang hanya karena cowok itu. Hmm, mereka memang sahabatku yang
paling baik. Karena mau memaafkanku walaupun kesalahan yang udah
besar banget. Sebagai permintaanku yang terakhir, “Peri, aku mau
keadaan kembali di mana saat aku datang ke sekolah dengan kulit putih
ini. Hanya itu, karena aku ingin menikmati pesta ulang tahun Poppy,”
peri pun mengabulkannya. Dia tersenyum padaku, dan bayangannya
perlahan menghilang. Aku tiba-tiba saja sudah ada di kelas.
Terimakasih Peri. Kau telah merubah hidupku jadi lebih baik.
Posting Komentar