“Keyla!
Kau kok bengong aja sih? Ngapain aja sampai aku ngomong aja tatapanmu menembus
cakrawala gitu,” teriak Nesti sahabatku tepat di depan telingaku. “Apaan sih,
Nes?! Peah gendang telingaku bisa-bisa,” jawabku asal. “Idih, mikirin siapa
hayo? Kak Sandy ya?” goda Nesti. “Nggak lah, ngapain juga, kurang kerjaan apa?”
ucapku lebih asal. “Udah deh, ngaku aja, Key! Ah, pulang aja yuk, laper nih.
Traktir ya, Keyla,” kata Nesti sambil menarikku keluar dari kelas sebelum aku
sempat menjawabnya.