“Keyla!
Kau kok bengong aja sih? Ngapain aja sampai aku ngomong aja tatapanmu menembus
cakrawala gitu,” teriak Nesti sahabatku tepat di depan telingaku. “Apaan sih,
Nes?! Peah gendang telingaku bisa-bisa,” jawabku asal. “Idih, mikirin siapa
hayo? Kak Sandy ya?” goda Nesti. “Nggak lah, ngapain juga, kurang kerjaan apa?”
ucapku lebih asal. “Udah deh, ngaku aja, Key! Ah, pulang aja yuk, laper nih.
Traktir ya, Keyla,” kata Nesti sambil menarikku keluar dari kelas sebelum aku
sempat menjawabnya.
“Key, suka gak?” tanya Nesti sambil
melihat kotak kado yang ada di tanganku. “Bagus banget, Nes. Makasih ya, baik
deh,” kataku sambil merangkulnya, setelah sebelumnya memakai kalung pemberian
Nesti. Hari ini ulang tahun ku yang ke 15 tahun. Tapi sayangnya, aku nggak
pernah menerima kado yang spesial dari siapapun. Bukan berarti aku gak
bersyukur atas semua kado yang kuterima lho. Tapi… Bruk! Saat aku melamun, bahu
ku ditabrak seseorang, aku menoleh pada orang itu yang ternyata adalah seorang
ibu-ibu paruh baya. “Nona, kau tidak apa-apa? Sebagai permintaan maaf, aku
ingin berikan benda ini padamu,” ucap Ibu itu. “Tidak apa-apa, Bu terimakasih.
Saya sedang buru-buru,” kataku tanpa melihat benda yang dipegang Ibu itu.
“Tapi, aku ingin memberikannya padamu. Sudahlah ambil saja,” kata Ibu itu
sedikit memaksa. “Baiklah, Bu. Terimakasih banyak. Yuk pulang, Nes. Aku mau
ajak kamu makan di rumah,” kataku pada Nesti dan pergi dengan secepatnya.
2 jam kemudian setelah acara makan
siang bersama keluargaku dan Nesti selesai, aku langsung membuka tasku dan
melihat barang yang tadi diberikan ibu tua itu. “Apaan sih nih? Kotak merah gak
jelas gini? Pantes aja dikasih gratis,” gumamku dalam hati. Aku langsung
membuka kotak itu, isinya ternyata jam tangan kuno berwarna coklat. Aku mencoba
memakainya. Anehnya, jam itu bisa mengait dengan sendirinya dan langsung terasa
pas di pergelangan tanganku. Astaga, jam macam apa ini? Jangan-jangan jam ini,
jam tukang sihir. Akupun pergi tidur dengan memakai jam itu untuk menghilangkan
segala perasaan anehku pada jam itu.
“Key! Keyla! Tungguin dong! Kemarin
kotak yang dikasih ama ibu tua itu apaan sih isinya? Aku penasaran nih,Key.
Kasih tau dong,” tanya Nesti begitu aku sampai di kelas. “Ini nih, jam coklat
kuno gak bermerek, pantes aja dikasih gratis. Jam ini aneh lho, Nes. Masa bisa
ngepas sendiri di tanganku. Tapi, tahan air lho,”jelasku smbil menunjukkan jam
itu pada Nesti. “Unik tau bentuknya. Kalo kamu gak mau, kasih aku aja deh,”
mohon Nesti. “Ya deh buat kamu aja, aku gak minat,”kataku sambil mencoba
membuka kaitan jam tersebut. Tapi anehnya, jam itu gak bisa kebuka kaitannya.
Walaupun sekeras apapun usahaku. “Nes, jamnya gak bisa dilepas. Haduh, kok jadi
makin aneh gini sih!” kataku setengah berteriak. “Ok, Key. Sekarang kita harus
nyari ibu-ibu itu. Kita minta pertanggung jawaban jam-mu itu. Harus, Key,”
jelas Nesti dengan penuh semangat. “Idih, gila apa. Kamu mau dipentungin pak
satpam? Bel masuk aja belum, mau nyelonong keluar, dasar,” kataku. “Hehehehe.
Ya nanti pulang sekolah gitu maksudku, Keyla,” tak lama kemudian bel masuk
berbunyi dan kegiatan belajar pun dimulai.
Saat pulang sekolah pun tiba, aku dan
Nesti langsung keluar sekolah dan melihat Ibu tua itu. “Tuh, Key. Ibu tua yang
itu kan?” kata Nesti sambil menunjuk ke arah Ibu tua. “Bener, Nes. Itu Ibunya.
Yuk yuk,” kataku yang langsung menyeret Nesti ke arah ibu tua itu. “Bu, jam ini
ada kekuatan megisnya ya, Bu. Ibu kalo ngasi barang jangan yang aneh-aneh, Bu
ke temen saya,” cerocos Nesti begitu ada di depan ibu itu. “Hus, Nes. Gak usah
nyolot napa,” cegahku. “Neng, maaf ya. Saya lupa ngtasih ini ke, Neng kemarin.
Ini dibaca dulu. Pasti nanti tau maksud saya,” kata ibu itu sambil menyerahkan
selembar kertas kumal dan langsung berlalu begitu saja.
Di rumah tepatnya di kamarku, aku
langsung membaca catatan kertas kumal yang tadi siang diberikan ibu tua itu.
Jam ini jam keberuntungan
Jam
ini juga jam lorong waktu
Kamu bisa melewati
waktu masa lalu maupun masa yang akan datang hanya dengan satu kedipan mata.
Aneh
banget ini jam, pikirku dalam hati. Tapi aku tetap akan mencobanya. Aku
masukkan tanggal dan waktu yang ingin kelalui di note yang ada di balik jam
itu. Semuanya benar. Saat aku menutup katup jam itu dan aku mengedipkan mat,
maka yang terlihat adalah setting masa depanku. Di sana aku menggendong seorang
bayi, tapi wajahku sudah berubah. Sangat berubah total malah. Kulitku pun lebih
putih dari sebelumnya. Saat itu pula ada seorang wanita tua masuk kamar, itu
pasti mamaku. Dia berkata, ”Keyla, kamu yang sabar ya, mungkin ini cobaan
untukmu. Suamimu pasti sudah tenang di alam sana,” kata mamaku pada saat itu
sambil memelukku. Aku gak tau apa ini maksudnya. Tapi, kenapa takdir ini harus
kulihat sebelum waktunya. Bodohnya aku memilih waktu yang sangat salah.
Aku kembali ke kamarku. Aku menuliskan
tanggal dan waktu besok. Aku ingin tau beosk ada kejadian seru apa. Tak lupa
aku menuliskan tempatnya di kamar Nesti besok siang. Aku melihat dia memegang
foto seseorang, yaitu fotoku. Dia menggenggam fotoku erat erat seperti ingin
merobeknya. Lalu benar, dia merobek fotoku dengan muka yang sangat marah, dan
dia berkata lirih, “kau telah meebut semua milikku, selama ini kaupikir aku
menyukaimu, hah?! Aku membencimu, Keyla. Lihat saja suatu saat nanti akan
kuhancurkan hidupmu,” robeknya foto itu, robek pula hatiku. Selama ini sahabat
yang paling kusayangi, dan selalu ada disampingku, ternyata hanya ingin merusak
hidupku. Denga segera aku pergi dari tempat itu, aku pun tertidur di sofa
kamar.
Aku bangun dan merasakan diriku ada di
keramaian. Aku, entah bagaimana bisa ada di kelas saat bangun. Guru paling
killer, Pak Bonar menghantam mejaku dengan penggaris kayu hingga nyawaku serasa
masih di atas langit dan buru-buru masuk lagi kedalam ragaku. Aku tak mengerti
arti semua ini, mimpi? Mungkin, tapi mimpi itu serasa nyata sekali bagiku. Akhirnya
Pak Bonar menghukumku berdiri di koridor sampai pulang sekolah gara-gara aku
tertidur di kelas. Saat pulang sekolah, aku langsung menghampiri Nesti. “Nes,
kamu benci sama aku ya, Nes? Nes, maafin segala kesalahanku dong, Nes. Kumohon,
aku nmau lakuin apa aja deh, biar kamu gak sebenci itu ke aku sampai ngerobek
fotoku gitu, Nes, please, Nes,” mohonku pada Nesti yang dibalas tatapan aneh
dari Nesti. “Kamu kenapa sih, Key? Aneh banget. Jelas nggak lah. Aku nggak
pernah benci sama kamu. Kamu udah kayak sodara aku sendiri walaupun kita gak
sedarah. Terus apa itu, ngerobek fotomu? Gak mungkin lah, Key. Kalo fotomu
robek, pasti fotoku juga robek, jelek-jelk en fotoku aja kamu itu,” jelas
Nesti. “Beneran, Nes?” tanyaku lagi untuk meyakinkan diriku sendiri. “Ya
iyalah, Keyla,” jawab Nesti mantap sambil memelukku. “Oke deh, kalo gitu,
pulang yuk,” ajakku. Kami berdua langsung keluar gerbang sekolah dengan
berangkulan.
Sampai
di depan gerbang, kami bertemu dengan ibu tua yang ada di mimpiku itu. “Neng,
ini ibu kasih jam, mau tidak? Mau ya? Ibu sudah putus asa menawarkannya ke
siapapun,” kata ibu itu sambil menjuulurkan kotak berwarna merah persis seperti
yang ada di mimpiku. “Nggak deh, Bu. Makasih banyak. Yuk, Nes pulang. Ntar aku
traktir makan deh,” ajakku pada Nesti dan langsung meninggalkan Ibu itu.
“Pilihan yang bagus,” kata Ibu itu sambil tersenyum aneh.
Posting Komentar