FIRST

Thank's a lot for visiting my blog... Don't forget to give your comments below after you read MY EXPRESSION.. -Aliefya Fridayana-

CERPEN #2 : GARA-GARA JAM




“Keyla! Kau kok bengong aja sih? Ngapain aja sampai aku ngomong aja tatapanmu menembus cakrawala gitu,” teriak Nesti sahabatku tepat di depan telingaku. “Apaan sih, Nes?! Peah gendang telingaku bisa-bisa,” jawabku asal. “Idih, mikirin siapa hayo? Kak Sandy ya?” goda Nesti. “Nggak lah, ngapain juga, kurang kerjaan apa?” ucapku lebih asal. “Udah deh, ngaku aja, Key! Ah, pulang aja yuk, laper nih. Traktir ya, Keyla,” kata Nesti sambil menarikku keluar dari kelas sebelum aku sempat menjawabnya.

     “Key, suka gak?” tanya Nesti sambil melihat kotak kado yang ada di tanganku. “Bagus banget, Nes. Makasih ya, baik deh,” kataku sambil merangkulnya, setelah sebelumnya memakai kalung pemberian Nesti. Hari ini ulang tahun ku yang ke 15 tahun. Tapi sayangnya, aku nggak pernah menerima kado yang spesial dari siapapun. Bukan berarti aku gak bersyukur atas semua kado yang kuterima lho. Tapi… Bruk! Saat aku melamun, bahu ku ditabrak seseorang, aku menoleh pada orang itu yang ternyata adalah seorang ibu-ibu paruh baya. “Nona, kau tidak apa-apa? Sebagai permintaan maaf, aku ingin berikan benda ini padamu,” ucap Ibu itu. “Tidak apa-apa, Bu terimakasih. Saya sedang buru-buru,” kataku tanpa melihat benda yang dipegang Ibu itu. “Tapi, aku ingin memberikannya padamu. Sudahlah ambil saja,” kata Ibu itu sedikit memaksa. “Baiklah, Bu. Terimakasih banyak. Yuk pulang, Nes. Aku mau ajak kamu makan di rumah,” kataku pada Nesti dan pergi dengan secepatnya.
          2 jam kemudian setelah acara makan siang bersama keluargaku dan Nesti selesai, aku langsung membuka tasku dan melihat barang yang tadi diberikan ibu tua itu. “Apaan sih nih? Kotak merah gak jelas gini? Pantes aja dikasih gratis,” gumamku dalam hati. Aku langsung membuka kotak itu, isinya ternyata jam tangan kuno berwarna coklat. Aku mencoba memakainya. Anehnya, jam itu bisa mengait dengan sendirinya dan langsung terasa pas di pergelangan tanganku. Astaga, jam macam apa ini? Jangan-jangan jam ini, jam tukang sihir. Akupun pergi tidur dengan memakai jam itu untuk menghilangkan segala perasaan anehku pada jam itu.
          “Key! Keyla! Tungguin dong! Kemarin kotak yang dikasih ama ibu tua itu apaan sih isinya? Aku penasaran nih,Key. Kasih tau dong,” tanya Nesti begitu aku sampai di kelas. “Ini nih, jam coklat kuno gak bermerek, pantes aja dikasih gratis. Jam ini aneh lho, Nes. Masa bisa ngepas sendiri di tanganku. Tapi, tahan air lho,”jelasku smbil menunjukkan jam itu pada Nesti. “Unik tau bentuknya. Kalo kamu gak mau, kasih aku aja deh,” mohon Nesti. “Ya deh buat kamu aja, aku gak minat,”kataku sambil mencoba membuka kaitan jam tersebut. Tapi anehnya, jam itu gak bisa kebuka kaitannya. Walaupun sekeras apapun usahaku. “Nes, jamnya gak bisa dilepas. Haduh, kok jadi makin aneh gini sih!” kataku setengah berteriak. “Ok, Key. Sekarang kita harus nyari ibu-ibu itu. Kita minta pertanggung jawaban jam-mu itu. Harus, Key,” jelas Nesti dengan penuh semangat. “Idih, gila apa. Kamu mau dipentungin pak satpam? Bel masuk aja belum, mau nyelonong keluar, dasar,” kataku. “Hehehehe. Ya nanti pulang sekolah gitu maksudku, Keyla,” tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan kegiatan belajar pun dimulai.
          Saat pulang sekolah pun tiba, aku dan Nesti langsung keluar sekolah dan melihat Ibu tua itu. “Tuh, Key. Ibu tua yang itu kan?” kata Nesti sambil menunjuk ke arah Ibu tua. “Bener, Nes. Itu Ibunya. Yuk yuk,” kataku yang langsung menyeret Nesti ke arah ibu tua itu. “Bu, jam ini ada kekuatan megisnya ya, Bu. Ibu kalo ngasi barang jangan yang aneh-aneh, Bu ke temen saya,” cerocos Nesti begitu ada di depan ibu itu. “Hus, Nes. Gak usah nyolot napa,” cegahku. “Neng, maaf ya. Saya lupa ngtasih ini ke, Neng kemarin. Ini dibaca dulu. Pasti nanti tau maksud saya,” kata ibu itu sambil menyerahkan selembar kertas kumal dan langsung berlalu begitu saja.
          Di rumah tepatnya di kamarku, aku langsung membaca catatan kertas kumal yang tadi siang diberikan ibu tua itu.
                   Jam ini jam keberuntungan
                   Jam ini juga jam lorong waktu
Kamu bisa melewati waktu masa lalu maupun masa yang akan datang hanya dengan satu kedipan mata.
          Aneh banget ini jam, pikirku dalam hati. Tapi aku tetap akan mencobanya. Aku masukkan tanggal dan waktu yang ingin kelalui di note yang ada di balik jam itu. Semuanya benar. Saat aku menutup katup jam itu dan aku mengedipkan mat, maka yang terlihat adalah setting masa depanku. Di sana aku menggendong seorang bayi, tapi wajahku sudah berubah. Sangat berubah total malah. Kulitku pun lebih putih dari sebelumnya. Saat itu pula ada seorang wanita tua masuk kamar, itu pasti mamaku. Dia berkata, ”Keyla, kamu yang sabar ya, mungkin ini cobaan untukmu. Suamimu pasti sudah tenang di alam sana,” kata mamaku pada saat itu sambil memelukku. Aku gak tau apa ini maksudnya. Tapi, kenapa takdir ini harus kulihat sebelum waktunya. Bodohnya aku memilih waktu yang sangat salah.
          Aku kembali ke kamarku. Aku menuliskan tanggal dan waktu besok. Aku ingin tau beosk ada kejadian seru apa. Tak lupa aku menuliskan tempatnya di kamar Nesti besok siang. Aku melihat dia memegang foto seseorang, yaitu fotoku. Dia menggenggam fotoku erat erat seperti ingin merobeknya. Lalu benar, dia merobek fotoku dengan muka yang sangat marah, dan dia berkata lirih, “kau telah meebut semua milikku, selama ini kaupikir aku menyukaimu, hah?! Aku membencimu, Keyla. Lihat saja suatu saat nanti akan kuhancurkan hidupmu,” robeknya foto itu, robek pula hatiku. Selama ini sahabat yang paling kusayangi, dan selalu ada disampingku, ternyata hanya ingin merusak hidupku. Denga segera aku pergi dari tempat itu, aku pun tertidur di sofa kamar.
          Aku bangun dan merasakan diriku ada di keramaian. Aku, entah bagaimana bisa ada di kelas saat bangun. Guru paling killer, Pak Bonar menghantam mejaku dengan penggaris kayu hingga nyawaku serasa masih di atas langit dan buru-buru masuk lagi kedalam ragaku. Aku tak mengerti arti semua ini, mimpi? Mungkin, tapi mimpi itu serasa nyata sekali bagiku. Akhirnya Pak Bonar menghukumku berdiri di koridor sampai pulang sekolah gara-gara aku tertidur di kelas. Saat pulang sekolah, aku langsung menghampiri Nesti. “Nes, kamu benci sama aku ya, Nes? Nes, maafin segala kesalahanku dong, Nes. Kumohon, aku nmau lakuin apa aja deh, biar kamu gak sebenci itu ke aku sampai ngerobek fotoku gitu, Nes, please, Nes,” mohonku pada Nesti yang dibalas tatapan aneh dari Nesti. “Kamu kenapa sih, Key? Aneh banget. Jelas nggak lah. Aku nggak pernah benci sama kamu. Kamu udah kayak sodara aku sendiri walaupun kita gak sedarah. Terus apa itu, ngerobek fotomu? Gak mungkin lah, Key. Kalo fotomu robek, pasti fotoku juga robek, jelek-jelk en fotoku aja kamu itu,” jelas Nesti. “Beneran, Nes?” tanyaku lagi untuk meyakinkan diriku sendiri. “Ya iyalah, Keyla,” jawab Nesti mantap sambil memelukku. “Oke deh, kalo gitu, pulang yuk,” ajakku. Kami berdua langsung keluar gerbang sekolah dengan berangkulan.
Sampai di depan gerbang, kami bertemu dengan ibu tua yang ada di mimpiku itu. “Neng, ini ibu kasih jam, mau tidak? Mau ya? Ibu sudah putus asa menawarkannya ke siapapun,” kata ibu itu sambil menjuulurkan kotak berwarna merah persis seperti yang ada di mimpiku. “Nggak deh, Bu. Makasih banyak. Yuk, Nes pulang. Ntar aku traktir makan deh,” ajakku pada Nesti dan langsung meninggalkan Ibu itu. “Pilihan yang bagus,” kata Ibu itu sambil tersenyum aneh.  
           
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My Expression - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger